Di mana pun itu, setiap kehidupan membutuhkan air!

Ungkapan di atas tidak dikutip dari ahli manapun. Cukup dirasakan, bahwa manusia memang tak akan sanggup menahan dehidrasi dalam waktu lama. Apa jadinya jika disuatu tempat mengalami curah hujan yang sangat minim sehingga penghijauan berkurang dan kekeringan tidak bisa dielakkan. Mungkin selama ini, kita berfikir hanya mereka yang berada di kawasan gurun yang menjalani kehidupan dalam kekeringan teramat sangat. Ternyata, di pedalaman Indonesia juga terdapat masyarakat yang memikul bergalon-galon air dari mata air di dataran tinggi untuk kehidupan mereka.

Pogram Air untuk Kehidupan |Dompet Dhuafa |foto @bairuindra
Pogram Air untuk Kehidupan |Dompet Dhuafa |foto @bairuindra

Belum lama ini, bersama Dompet Dhuafa – salah satu lembaga independen yang bekerja dalam rangka kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah – kami berkesempatan mengunjungi Semoyong, pedalaman Lombok yang mengalami masa-masa kritis air sampai saat ini. Sebelumnya, daerah kering di Desa Kidang, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah ini bertahun-tahun tidak merasakan nikmatnya kehidupan mereka bersama air. Jauh sebelum 22 Juni 2011, saat Dompet Dhuafa memberikan bantuan, masyarakat dataran rendah Semoyong ini mencari air di daerah-daerah lain di mana mata air masih mengalir. Jarak yang ditempuh berkilo meter sehingga mereka lupa mengukur jalan karena memikul air begitu berat mencapai rumah mereka.

Dompet Dhuafa berdedikasi memberikan bantuan kepada masyarakat Desa Kidang, Nusa Tenggara Barat ini dengan melakukan pengeboran mata air. Di bantu masyarakat setempat pengeboran ini dilakukan sehingga mencapai mata air di kedalaman 75 meter. Bagi saya yang tinggal di daerah dengan curah hujan sangat merata angka tersebut sangatlah besar sekali.

Jauh meninggalkan 2011, masyarakat Kidang seakan melupakan kehidupan mereka yang kering. Air bor yang difasilitasi dananya oleh Dompet Dhuafa tersebut diberi nama Air Untuk Kehidupan. Setidaknya masyarakat setempat sudah bisa bernafas lega dalam menghilangkan dahaga maupun kulit kering akibat tidak tersentuh air.

Ceritanya jauh berbeda ketika Burhanuddin, salah seorang warga yang dipercaya sebagai ketua kelompok mengatakan bahwa Air Untuk Kehidupan tersebut tidak selamanya bisa menyala. Pengeboran mencari air di kedalaman hampir mencapai perut bumi tersebut tidak lantas membuat keluarga bahagia di daerah ini. Mereka kembali diajarkan sabar, saling berbagi, menahan dahaga saat air tidak keluar sebagaimana harapan, dan tentu saja mereka sudah sangat terbiasa dengan itu.

Burhanuddin |sistem penampungan air bergilir |foto @bairuindra
Burhanuddin |sistem penampungan air bergilir |foto @bairuindra

Menurut Burhanuddin, air bor tersebut dinikmati setidaknya 100 kepala keluarga. Menyiasati kekurangan air mereka membagi kelompok-kelompok kecil supaya kehidupan benar-benar layak. Air Untuk Kehidupan tersebut dihidupkan dalam jarak waktu 4 jam sekali dengan durasi 18 menit sebelum berhenti mengalir. Pagi hari dihidupkan sekitar jam 6 untuk satu kelompok, kemudian jam 10 untuk kelompok lainnya, dan seterusnya selama rentang waktu sehari. Satu keluarga juga dibatasi hanya bisa menerima air sebanyak 6 wadah plastik berukuran besar.

Air tersebut digunakan secukupnya dalam waktu seharian penuh. Dan jika listrik padam maka masyarakat setempat tidak bisa menikmati air di setiap sendi kehidupan mereka. Sebagian mereka yang memiliki kemampuan ekonomi berlebih sudah membeli penampungan air dengan harga di atas 1 juta rupiah. Sedangkan mereka yang memiliki kehidupan kurang beruntung cukup menahan haus berkepanjangan dalam waktu tak menentu.

Selama 18 menit tersebut pula mereka sudah diajarkan cara berhemat. Kehidupan mereka sangatlah timpang. Di saat air berkurang dari hari ke hari mayoritas masyarakat Kidang tidak mendapatkan pekerjaan layak. Kaum laki-laki lebih banyak mengurus ternak sedangkan kaum perempuan bekerja sebagai penenun. Ternak sapi kadang tidak terurus, bahkan kandangnya terletak di dekat mata air kehidupan yang diambil warga. Hasil tenunan pun tidak kalah pilunya di saat tidak ada pembeli yang berminat mengambil hasil kerja keras mereka.

perumahan masyarakat |foto @bairuindra
perumahan masyarakat |foto @bairuindra

Masyarakat Kidang, umumnya di pedalaman Semoyong, mereka membutuhkan air untuk kehidupan layak. Anak-anak tumbuh dalam kekeringan dan tidak tercukupi kebutuhan dahaga mereka. Terbersit harapan, barangkali ada jiwa lain yang terketuk pintu hati mereka selain Dompet Dhuafa. Tidak bisa dipungkiri dengan air sebanyak itu, dengan tata cara pelaksanaannya, dengan durasi hidup mati air tergantung pada listrik, kehidupan mereka benar-benar jauh dari makmur.

Dengan kata lain, mereka juga butuh air bersih untuk diminum. Air Untuk Kehidupan tersebut belum tentu mampu memenuhi air minum jika dilihat dari ketergantungan kebutuhan lain. Air tersebut juga sangat jauh dari kata sehat jika dilihat sumber air mengalir berdiri di antara kandang sapi dan durasi 18 menit. Mereka yang menerima air di kesempatan pertama tentu saja sangat berbeda dengan mereka yang menerima air di kesempatan terakhir. Air yang mengalir tanpa penyaringan lantas diminum sudah bisa dibayangkan bagaimana kehidupan generasi penerus di dataran kering ini.

Siapa saja yang sempat menyaksikan kondisi masyarakat di Kidang, Nusa Tenggara Barat ini pasti akan bertanya, sampai kapan kondisi ini terus berlanjut?. Pemerintah yang abai kita lupakan saja karena masyarakat ini sudah sangat sabar menghadapinya. Mereka tidak manja, hanya kehidupan mereka tidak seberuntung kehidupan kita. Saat ladang mengering, penghasilan tidak ada, air kehidupan berhenti mengalir, entah apa yang mereka rasa.

Semoyong jadi sepenggal kisah yang terlupa, karena mereka ada kita pun bisa menyelami hidup lebih bermakna. [/edt-jrz]

Penulis [Bai Ruindra] @bairuindra

BAGIKAN
Aceh Fame adalah portal lifestyle pertama di Aceh yang mendedikasikan diri untuk Aceh yang popular. Lifestyle tidak selamanya identik kalangan elite yang serba gelamor. Semua kita memiliki dan memilih gaya hidup.