Baru-baru ini kita dikejutkan oleh pemberitaan media tentang pencemaran sungai di Aceh (baca: DAS tercemar). Beberapa ahli telah melakukan pemeriksaan sampel air dari Krueng Teunom Aceh Jaya yang positif tercemar racun. Masyarakat pun dihimbau agar tidak mengkonsumsi air dari sungai dan tidak mengkonsumsi ikan dan biota yang hidup di sepanjang aliran sungai tersebut. Masyarakat kini jadi was-was dan takut untuk mengkonsumsi ikan maupun kerang yang berasal dari sungai Aceh Jaya.

Ketakutan ini sangat wajar mengingat yang namanya racun itu tentu berbahaya. Namun di balik kasus tersebut, sadarkah kita bahwa sebenarnya racun-racun berbahaya tidak hanya berada di sungai yang tercemar limbah saja. Dalam kehidupan sehari-hari racun-racun ini berada dekat dengan kita, terutama anak-anak. Agaknya kita tidak begitu perhatian, mungkin karena dampak nyata belum ada atau belum dilaporkan.

Saat ini banyak bahan kimia yang digunakan dalam proses pengolahan makanan. Penambahan bahan kimia awalnya hanya untuk menambah cita rasa, aroma, menambah ketahanan makanan, atau efek warna menarik. Bahan-bahan kimia yang digunakan tersebut sebagian besar masih bisa ditoleransi dalam batas-batar tertentu. Tapi sebagian lainnya benar-benar merupakan bahan kimia yang tidak boleh dikonsumsi karena berbahaya bagi kesehatan, apalagi jika dikonsumsi secara terus menerus.

Beberapa bahan kimia berbahaya (racun) yang masih digunakan dalam industri makanan kita antara lain, formalin, boraks, zat pewarna makanan (Rhodamin B dan Metanil Yellow), zat pemanis buatan (sakarin, siklamat), nitrosamin, dan monosodium glutamat (MSG).

***

DCFC0033.JPGFormalin adalah bahan kimia berbahaya digunakan sebagai bahan pengawet makanan. Formalin dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia, gejalanya seperti sakit perut akut disertai muntah-muntah, mencret berdarah, depresi susunan syaraf, dan gangguan peredaran darah. Apabila formalin diberikan secara injeksi dengan dosis 100 gram, dapat menyebabkan kematian dalam waktu 3 jam.

Boraks juga banyak ditemukan dalam makanan seperti lontong, bakso, mie, kecap, dan cenil untuk memberikan efek kenyal pada makanan. Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks secara berkepanjangan akan menyebabkan gangguan otak, hati, dan ginjal.

Demikian halnya dengan penggunan zat pewarna tekstil yang dipakai sebagai zat pewarna makanan (Rhodamin B dan Metanil Yellow), berdasarkan beberapa penelitian telah dibuktikan bahwa zat pewarna ini bersifat racun bagi manusia dan dapat menyebabkan kanker.

Sebenarnya konsumsi jajanan di masyarakat itu meningkat karena makin terbatasnya waktu anggota keluarga untuk mengolah makanan sendiri. Kemajuan teknologi juga telah membawa kita kepada jenis makanan serba instant. Akhirnya makanan jajanan (street food) sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Kita menjadi takut ketika media memberitakan tentang sungai yang tercemar racun, tetapi kita tidak pernah takut untuk mengkonsumsi makanan jajanan yang mengandung bahan berbahaya. Banyak orang yang takut mengkonsumsi ikan yang berasal dari sungai yang tercemar racun, tetapi mereka tidak pernah berhenti mengkonsumsi makanan cepat saji (baca: Makanan Cepat Saji tak baik dikonsumsi Anak).

Makanan adalah kebutuhan pokok kita. Sebagai kebutuhan pokok, makanan semestinya memiliki kandungan nutrisi yang baik dan sehat bagi tubuh. Karena itu bekali diri kita, keluarga dan para sahabat dengan pengetahuan tentang makanan sehat. Hal ini akan meminimalisir kita dari dampak zat berbahaya yang kini ada dimana-mana. Sejauh ini baru dua aliran sungai di Aceh yang dilaporkan positif mengandung racun, sementara jajanan yang mengandung bahan kimia berbahaya telah tersebar luas hampir di seluruh pelosok negeri ini. Manakah yang perlu ditakuti? [/ed/jrz]

penulis [dr. Natalina Christanto]

BAGIKAN
Aceh Fame adalah portal lifestyle pertama di Aceh yang mendedikasikan diri untuk Aceh yang popular. Lifestyle tidak selamanya identik kalangan elite yang serba gelamor. Semua kita memiliki dan memilih gaya hidup.