Mmh High Heels, bagi sebagian perempuan sepatu ini merupakan ‘properti’ wajib untuk mengisi rak sepatu di rumah. Kesan glamour dari desainnya yang cantik membuat sepatu jenis ini paling digandrungi oleh kaum hawa yang ingin selalu tampil anggun dan elegan.

Meski banyak yang mengakui High Heels itu cukup menyiksa kaki ketika memakainya, namun tak pernah membuat pamor sepatu hak tinggi ini surut. Malah kini High Heels adalah “menu” wajib bagi kalangan profesional. Para selebriti misalnya, mereka selalu menggunakan High Heels untuk menghiasi kaki, agar tetap tampil seksi dan menarik.

Ternyata High Heels bukan hanya monopoli kaum hawa masa kini. Anda boleh menghafal nama-nama tenar para desainer sepatu dunia seperti Gucci, Christian Louboutin atau Jimmy Choo yang sudah tak asing lagi di telinga para pencinta High Heels. Namun tahukah Anda kalau ternyata bukan mereka yang pertama kali menciptakan sepatu ini. Di peradaban Mesir Kuno sepatu hak tinggi sudah digunakan oleh kalangan bangsawan untuk menunjukkan status sosial mereka.

Sementara di zaman Yunani Kuno juga terdapat sandal ber-hak tinggi yang disebut “khotorni”. Khotorni adalah sepatu dengan sol tinggi, terbuat dari bahan kayu yang juga sering dipakai oleh kalangan elit masa itu untuk membedakan mereka dari kebanyakan orang biasa.

Lalu pada abad ke-15 (1400an) terdapat sepatu yang dikenal dengan sebutan “chopines” yang terbuat dari bahan kayu. Chopines untuk pertama kali populer di Turki, dan pada abad ke-17 tren ini menjalar ke beberapa negara Eropa lainnya. Di masa inilah sepatu hak tinggi mulai digunakan secara eksklusif oleh kalangan perempuan.

High Heels
High Heels

Tinggi hak chopines bisa mencapai 7 hingga 30 inchi. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya kaum hawa kala itu untuk mengenakan chopines ini. Konon untuk menggunakannya dibutuhkan tongkat atau pelayan, guna membantu mereka berjalan. Chopines juga merupakan simbol status kekayaan dan kecantikan bagi perempuan masa itu dimana semakin tinggi heels yang di pakai maka semakin tinggi pula status sosial mereka.

Namun ketika Revolusi Perancis yang terjadi di akhir abad 18, sepatu hak tinggi sempat meredup pamornya. High heels amat dibenci oleh publik di waktu itu, karena merupakan simbol strata sosial para pemakainya yang diasosiasikan sebagai para bangsawan. Sepanjang abad ke-19 sepatu hak datar menjadi pilihan, baik oleh kalangan pria maupun wanita.

Hingga akhirnya ketika memasuki abad ke-20, High Heels kembali menemukan tempatnya. Sepatu ini muncul kembali dalam dunia mode lalu menjadi sangat populer hingga saat ini.

Dan kini, High Heels tidak lagi hanya sekedar simbol bagi para bangsawan. Sepatu hak tinggi ini lebih merupakan bagian dari trend dan gaya hidup. Tidak hanya para selebritas atau sosialita saja yang menyukainya, sebagian besar perempuan di berbagai belahan dunia menjadikan High Heels sebagai cara mengaktualisasikan diri mereka untuk tetap tampil menawan. Lalu bagaimana dengan Anda, apakah sudah memiliki High Heels? [Dy]