Siapa yang tak kenal dengan Tato. Suatu tanda yang dibuat dengan cara memasukkan pigmen ke dalam tubuh. Tato (bahasa Inggris: tattoo) telah ada sejak lama, tak ada yang tahu kapan pastinya tattoo lahir dan bagaimana sejarahnya. Namun, menurut para ilmuan tattoo yang tertua ditemukan pada mumi Mesir. Kira-kira pada 1300 SM lalu, konon penemuan itu dianggap yang menjadi pelopor tattoo pertama kali dan menyebar ke suku-suku di dunia.

Pada umumnya Tato sering dipakai oleh laki-laki, sebagai symbol kelelakian. Salah satu jenis Tato, juga terdapat di Aceh. Yang sering di sebut dengan inai. Namun, tato yang satu ini berjenis tato temporary atau tattoo yang bersifat tidak permanen.

Di Aceh, hal itu disebut dengan berinai, oen gaca (inai) yang dijadikan bahan tattoo oleh perempuan Aceh. Tato disini lebih sebagai symbol yang mengentalkan aura kewanitaan, biasanya perempuan Aceh menggunakan inai pada hari menyambut pernikahan. Hal itu sudah menjadi tradisi masyarakat Aceh dari sejak dahulu kala.

Pemakaian inai pada calon penggantin perempuan Aceh,telah menjadi tradisi sejak lama. Menurut Pengamat dan sejarawan Aceh, Muzakir mengatakan bahwa tradisi Aceh, khususnya pemakaian inai pada calon penggantin perempuan tidak bisa ditentukan tahun berapa. Yang pasti hal tersebut telah lama ada dan dikenal sebagai adat istiadat Aceh.

inai Oen Gaca
inai Oen Gaca

“Inai di Aceh itu tidak bisa kita telusuri kapan adanya, karena telah menjadi tradisi turun temurun bagi masyarakat Aceh. Namun, tradisi tersebut dipastikan ada setelah Bangsa India masuk ke Aceh. Zaman masuknya sebelum islam masuk ke Aceh,” ujar Muzakir.

Namun, pada awalnya tradisi pemakaian inai pada calon penggantin perempuan menggunakan oen gaca (daun pacar). Daun pacar ini, nantinya akan memberikan warna pada kulit. Setelah daun digiling secara halus, daun akan di gunakan pada bahagian tangan dan kaki calon pengganti perempuan. Inai akan dipasang hingga kering, sampai dedaunan berubah warna menjadi kemerahan dan kehitaman.

Seiring berjalannya waktu, inai dengan berbahan oen gaca telah berganti menjadi cara yang lebih unik dan menarik. Inai pasta atau sering disebut dengan inai arab telah menjadi trend masyarakat Aceh sejak beberapa tahun terakhir. Inai Arab ini, lebih praktis ketimbang inai dengan berbahan oen gaca.

Namun, inai dengan bahan oen gaca tampak lebih tahan lama dan lebih pekat warnanya. Berbeda dengan inai Arab, meski praktis dan mudah namun warna yang dihasilkan tidak pekat dan tidak tahan lama. Inai Arab telah lama hadir di Aceh, namun inai arab baru booming ketika tahun 2008.

Menurut Dedi, salah satu pengrajin seni ukir inai di Banda Aceh. Seni ukir mulai booming ketika perfilman ayat-ayat cinta mulai menghipnotis para mahasiswa di Banda Aceh. Kebetulan, disalah satu penggalan film terdapat ukiran inai di tangan wanita yang akan menikah.

“Ketika itu, saya masih berbisnis ukiran kaca. Ada dua orang mahasiswa menghampiri dan mereka menyuruh saya untuk mengukir inai di tangan mereka dengan gambar-gambar yang diinginkan. Dengan menggunakan inai dari mereka, saya mulai mengukirnya. Ketika itu harga sekali ukir saya sama kan dengan harga ukiran kaca yaitu senilai Rp 25 ribu,” ujar Dedi.

Ternyata, Dedi mulai tertarik dengan bisnis inai itu. Bisnis inai ini, menimbulkan banyak keuntungan. Satu tinta inai tak sampai Rp 25 ribu harganya, tapi untuk satu pasta inai bisa dipakaikan lebih dari satu ukiran inai. Sehingga, harga Rp 25 ribu sangat menguntungkan bagi Dedi.

inai Arab
inai Arab

Akhirnya, pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) tahun 2008 inai ayat-ayat cinta ini mulai menyebar di kalangan masyarakat Aceh. Semakin lama, semakin banyak pula para pedagang kecil-kecilan yang mencoba keberuntungan bisnis inai ayat-ayat cinta ini. Namun sayangnya, semakin menjadi gaya hidup bagi masyarakat Aceh, seni ukir tangan inai ini menjadi turun nilainya.

“Ironisnya harga seni inai yang tinggi bisa jatuh nilai harganya di akibatkan perebutan pasar. Yang awalnya Rp 25 ribu kini ada yang berani pasang harga Rp 5 ribu. Padahal itu merupakan seni yang nilai harganya itu jauh diatas rata-rata,” Lanjut Dedi.

Jika awal adat meugaca hanya ada untuk perempuan yang akan menikah. Kini di Banda Aceh, pemakaian inai Arab ini sudah menjadi trend atau gaya hidup bagi anak-anak muda.

“Adat meugaca belum hilang pada masyarakat Aceh. Hanya saja, cara penggunaannya yang sudah semakin modern. Jika dahulu pengantin perempuan di peusijuk dulu sebelum di beri inai, dan akan di pakaikan inai selama 3 hari 3 malam, berbeda dengan sekarang yang serba cepat dan praktis. Dengan bahan inai arab instans, langsung jadi tanpa harus di giling terlebih dahulu,” Kata Muzzakir, pengamat dan sejarawan Aceh. [Dara Hersavira]

BAGIKAN
Aceh Fame adalah portal lifestyle pertama di Aceh yang mendedikasikan diri untuk Aceh yang popular. Lifestyle tidak selamanya identik kalangan elite yang serba gelamor. Semua kita memiliki dan memilih gaya hidup.