Gema takbir bersahutan dari seluruh penjuru bumi, pertanda Hari Kemenangan telah tiba. Tanpa terasa sebulan penuh kita telah menjalankan ibadah puasa Ramadhan, sebulan kita telah menahan lapar dan dahaga dari terbitnya fajar hingga terbenam matahari. Kini Ramadhan itu telah pergi, hari ini kita dipertemukan dalam momen yang baru yaitu Idul Fitri, 1 Syawal 1435.

Di hari kemenangan ini, mungkin diantara kita ada yang bertanya-tanya: sebenarnya kegembiraan apa yang patut kita rayakan pada saat idul fitri? Apakah hanya sekedar datang dan berlalunya “suatu hari” tanpa arti sebagimana hari-hari yang lain? Atau ada sebuah keistimewaan yang patut kita banggakan di hari ini?

Setidaknya ada tiga kebahagiaan bagi kaum muslim menyambut datangnya idul fitri. Yaitu; Bahagia telah sempurna menemui Ramadhan, Bahagia telah berbagi dengan menunaikan kewajiban zakat fitrah, dan bahagia dapat bersilaturrahim, saling mema’afkan segala kesalahan menghapus luka yang pernah tergores dan mempererat hubungan persaudaraan.

1.  Bahagia telah sempurna menemui Ramadhan

Harus diakui bahwa berhasil menjumpai bulan Ramadhan, dengan kondisi fisik dan mental yang sehat, mampu melaksanakan puasa dengan khidmat, adalah anugerah besar yang kita miliki. Sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib RA (w: 40 H/661 M) pernah berucap: “Sehat jasmani adalah anugrah yang paling indah”

Dalam satu kesempatan, ulama besar di zaman tabi’in (setelah zaman para sahabat Nabi) imam Ibnu Sirin, (w: 110 H/728 M) berterus terang bahwa urusan hawa nafsu adalah urusan yang paling pelik dalam hidup, “Aku tidak pernah mempunyai urusan yang lebih pelik ketimbang urusan jiwa”. Betapa urusan jiwa menyangkut pengendalian nafsu ialah kendala besar yang merintangi hidup manusia, Rasulullah SAW, dalam hal ini mengingatkan: “Jalan ke surga dilapangkan dengan mengendalikan hawa nafsu, sedangkan jalan ke neraka dilapangkan dengan menuruti hawa nafsu” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan tibanya idul fitri ini, sangatlah wajar jika kita berbahagia menampakkan kegembiraan bersama, bukan atas dasar telah berlalunya bulan suci Ramadhan, akan tetapi kebahagiaan ini dilandaskan pada keberhasilan dalam mengendalikan hawa nafsu dalam kadar dan rentang waktu tertentu.

2.  Bahagia dengan Peduli terhadap Sesama

Kebahagiaan kedua yang semestinya kita rasakan pada momen datangnya hari raya idul fitri adalah, karena telah mengeluarkan zakat fitrah. Sebuah ibadah yang tidak lain sebagai bentuk penyucian diri setiap muslim sekaligus sebagai penyempurna puasa di bulan Ramadhan.

Zakat fitrah merupakan salah satu ibadah yang berdimensi horizontal. kalau kita perhatikan secara kasat mata, sangatlah sepele, tidak membutuhkan jumlah harta yang berlimpah akan tetapi setiap muslim yang pada saat tibanya idul fitri memiliki kebutuhan pokok untuk dirinya, keluarga dan orang yang dinafkahinya. Maka ia berkewajiban mengelurakan zakat. Nominasi harta yang dikeluarakan pun sangat sedikit, hanya 1 Sha’ sekitar 2,5 kg makanan pokok setempat atau bisa diuangkan sesuai dengan standar harganya.

Berbeda dengan zakat harta, zakat hewan ternak, zakat hasil bumi, zakat profesi dan zakat niaga, jenis-jenis zakat-zakat ini hanya bisa ditunaikan oleh kalangan berada saja. Maka dari itu, prosentasi muslim yang berkewajiban mengeluarkan zakat fitrah jauh lebih banyak dari pada zakat-zakat tersebut, hal ini sesuai dengan maqasid (tujuan) disyari’atkannya zakat fitrah yaitu untuk mengembalikan setiap manusia pada fitrahnya.

Kalau sejenak kita menengok maqasid (tujuan) dan hikmah diwajibkannya ibadah zakat secara umum, ternyata ajaran Islam, disamping mengupayakan kesucian diri setiap insan, juga mengharapkan kesucian dan keberkahan harta benda yang dimilikinya. Dalam al Qur’an di jelaskan, saat Allah SWT memerintahkan Muhammad SAW untuk merealisasikan kewajiban zakat kepada para sahabatnya: “Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan -dan mensucikan- mereka” (Qs. at Taubah: 103).

Jika demikian adanya, maka kesempatan menunaikan zakat fitrah, adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Kita telah diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk mensucikan jiwa sekaligus mewujudkan rasa peduli terhadap kondisi di sekitar kita. Bagaimanapun kebahagiaan dalam menyambut datangnya idul fitri, juga berhak dirasakan oleh kaum miskin yang sama sekali tidak memiliki makanan pokok saat hari raya tiba.

3.  Berbahagia dengan Bersilaturrahim

Tradisi “halal bi halal” yang ada di setiap hari raya idul fitri sebagai kesempatan bagi kita untuk bersilaturrahim. Tentunya silaturrahim dalam maknanya yang luas, yaitu saling memafkan atas segala kesalahan yang pernah dilakukan, saling mempererat hubungan persaudaraan, bukan hanya sebatas persaudaraan atas dasar kekerabatan dan hubungan nasab keturunan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu” (Qs. Al Hujurat: 10)

Interaksi keseharian dalam komunitas akan selalu di warnai dengan berbagai hal, sesuai dengan situasi dan kondisi. Adakalanya baik ada kalanya buruk, kadang damai kadang konflik. Implikasi dari hubungan keseharian ini tidak selamanya menyakitkan sehingga menimbulkan kebencian, begitu juga tidak semuanya indah sehingga menimbulkan suka cita, pada saat-saat tertentu emosi, egois dan kesombongan bisa saja menguasai diri kita.

Dampak buruk yang kita terima dari sikap orang lain, begitu juga kelakuan tidak bersahabat yang kita tunjukkan kepada orang lain, baik dengan penuh kesadaran  maupun dalam ketidaksadaran, harus kita netralisir dengan bersilaturrahim. Kita percaya, bahwa hari raya idul fitri sebagai momen yang tepat untuk menetralisir atau paling tidak meminimalisir ketegangan hubungan antar sesama umat manusia. Rasulullah SAW bersabda : “Wahai manusia, tebarkanlah kedamaian dan sambunglah persaudaraan” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Melalui silaturrahim, kita juga akan mendapatkan hikmah dan faedah yang luar biasa. Di antaranya; akan mempermudah segala urusan, bisa menjalin partner usaha, dan memperbanyak kolega yang tentunya akan saling menguntungkan dalam bekerjasama. Dalam satu kesempatan Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, sambunglah persaudaraan” (HR. Bukhari dan Muslim). Sebagian ulama mengartikan “panjang usia” dalam hadist di atas dengan makna “keberkahan hidup”. Minal ‘Aidin Wal Faidzin. Mohon maaf Lahir dan Batin. []

Penulis [Arwani Syaerazi], Editor [elz]

Via [pesantrenvirtual]

BAGIKAN
Aceh Fame adalah portal lifestyle pertama di Aceh yang mendedikasikan diri untuk Aceh yang popular. Lifestyle tidak selamanya identik kalangan elite yang serba gelamor. Semua kita memiliki dan memilih gaya hidup.