Labi-Labi adalah sebutan hewan sejenis Kura-kura anggota suku Trionychidae. Kebanyakan Labi-Labi berukuran sedang, jarang didapati yang berukuran besar, ukurannya hanya sekitar 250-400 mm. Perisai berbentuk memanjang, pipih datar. Sebuah garis lebar coklat tua terdapat di wilayah vertebral, memanjang dan datar dari depan ke belakang.

Seperti yang kita tahu, di Aceh juga terdapat sebuah alat transportasi umum yang populer disebut Labi-Labi, Entah ada hubungan atau tidak, gambaran mengenai bentuk hewan Labi-Labi (Trionychidae) diatas sangat mirip dengan alat transportasi di Aceh yang bernama Labi-Labi. Alat transportasi ini terbilang berukuran sedang dibandingkan jenis angkutan umum lainnya seperti Bus dan Damri. Kulit penutup mobil angkutan yang satu ini juga memanjang dan datar (lurus).

Angkutan Labi-labi di Aceh awalnya mulai dikenal dan beroperasi sekitar awal tahun 1980-an, saat itu menggunakan mobil kecil dengan mesin 500 cc berkapasitas penumpang sebanyak 11 orang. Namun di pertengahan tahun 1980-an angkutan labi-labi ini mulai tren menggunakan mobil jenis Hijet-55 dengan kapasitas mesin 550 cc dengan bentuk serta kapasitas angkut penumpang lebih besar, yaitu sebanyak 14 orang. Pada era berikutnya, angkutan Labi-labi mulai menggunakan mobil Hijet 1000 dengan mesin 1000 cc yang bisa menampung penumpang sebanyak 16 orang.

Transportasi Labi-Labi ini beroperasi mulai dari pukul 06.30 WIB pagi hingga pukul 20.00 malam. Hanya saja pasca bencana Tsunami 2004, trayek angkutan umum yang satu ini mulai digeser menjadi pukul 06.30 WIB sampai pukul 18.00 WIB. Meskipun begitu, Labi-labi biasanya juga mulai beroperasi lebih awal yakni mulai pukul 04.00 WIB dini hari untuk membawa muatan Sayuran, Ikan Teri dan Ikan Asin milik ibu-ibu (nyak-nyak -red) dan para pedagang dari kawasan Aceh Besar menuju ke Pasar Peunayong, Pasar Aceh, Pasar Neusu dan Pasar Setui di Kota Banda Aceh. Muatan berupa sayuran itu biasa diambil dari daerah sekitar Tungkop, Cot Keu’eung dan Ulee Kareng; sedangkan Ikan Teri maupun Ikan Asin dimuat dari daerah Krueng Raya.

Terminal Labi-labi juga sering menjadi tempat transit bagi ibu-ibu atau pedagang sembako untuk menunggu jemputan dari Labi-Labi rute Seulimum untuk mengantar pedagang tersebut ke Pasar Seulimum di Aceh Besar. Selain murah, sarana transportasi ini juga terbilang aman bagi para pedagang ini. Jarang sekali kita mendengar alat transportasi jenis ini mengalami kecelakaan di jalan ketika beroperasi. Mungkin filosofinya juga di ambil dari hewan kura-Kura (Labi-Labi), biar lambat asal selamat. Hehe (Ddy)

BAGIKAN
Aceh Fame adalah portal lifestyle pertama di Aceh yang mendedikasikan diri untuk Aceh yang popular. Lifestyle tidak selamanya identik kalangan elite yang serba gelamor. Semua kita memiliki dan memilih gaya hidup.