Ketika mengomentari posting, status, atau tweet secara online, netizen cenderung menggunakan nama palsu. Namun tahukah Anda mengapa hal itu dilakukan?

Survei yang dilakukan oleh Disqus pada sekitar 1.000 orang yang menggunakan layanan mereka dan tambahan 1.000 pengguna internet umum telah mengungkap bagaimana para netizen ini mengidentifikasi diri mereka secara online.

Dari hasil survei tersebut, terungkap jika mayoritas masih mengandalkan nama samaran ketika posting komentar online, tapi kenapa begitu? Menurut Steve Roy, Vice President Disqus di sektor pemasaran dan komunikasi, menggunakan nama samaran membuat netizen merasa aman dan nyaman ketika ingin berbagi pendapat tentang topik bersifat kontroversial seperti soal agama dan politik.

“Ini bukan tentang menyembunyikan identitas. Ini tentang privasi dan memilih identitas hingga Anda bebas berbicara,” ungkap Roy.

Namun tentu selalu ada kemungkinan bahwa orang bisa bersembunyi di balik nama samaran atau memilih menjadi anonim sehingga mereka bisa dengan bebas mengatai pengguna lain di internet baik di forum maupun jejaring sosial. Kemungkinan adanya niatan meninggalkan komentar yang bersifat mencaci ataupun propaganda tanpa banyak pengaruhnya pada kehidupan nyata mereka juga tak tertutup.

Menanggapi banyaknya registrar yang menggunakan nama palsu juga membuat platform jejaring sosial seperti YouTube, Facebook, dan Google+ pun kini memiliki aturan yang memaksa pengguna untuk menggunakan nama asli mereka ketika membuat komentar atau mendaftar akun baru. Hal tersebut dimaksudkan agar pengguna lebih bertanggung jawab atas tindakan mereka.

Saat ini tak dipungkiri masih banyak pengguna internet yang menggunakan nama palsu saat mendaftar di jejaring sosial atau pun membuat akun baru di platform tertentu. Menurut Anda, mengapa nama samaran masih dipilih kala melakukan posting komentar atau pendapat secara online? Ungkapkan di kolom komentar di bawah ini. [Ubergizmo/Merdeka.com]

BAGIKAN
Aceh Fame adalah portal lifestyle pertama di Aceh yang mendedikasikan diri untuk Aceh yang popular. Lifestyle tidak selamanya identik kalangan elite yang serba gelamor. Semua kita memiliki dan memilih gaya hidup.