Sebuah keberuntungan bisa datang dari mana saja. Belum lama ini saya sempat berkunjung suatu pulau yang sedang dipamerkan menjadi salah satu destinasi wisata bahari di bagian timur Indonesia. Kepulauan Lombok, memang belum sefenomenal Bali yang sudah dikenal secara global, namun para wisatawan domestik maupun mancanegara sudah berpaling ke Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, terutama pada puncak Rinjani, tepi pantai Senggigi maupun anak pulau Gili Terawangan.

Perjalanan dalam jarak sangat jauh bagi saya secara pribadi. Menggunakan transportasi udara, Banda Aceh menuju Jakarta saja ditempuh dalam waktu 3 jam. Jakarta ke Lombok ditempuh dalam waktu 2 jam. Secara kasar, biaya perjalanan ini kurang lebih 5 juta dengan menggunakan pesawat kelas ekonomi tentunya.

***
Puncak Rinjani merupakan salah satu gunung yang diidam-idamkan para pendaki. Karena dalam agenda kami tidak mendaki gunung tersebut, saya cukup berpuas diri dengan menikmati lembah Rinjani di dataran dingin Sembalun. Daerah Sembalun ini merupakan salah satu daerah di kepulauan yang dikenal dengan ribuan masjid ini sebagai daerah basis kekuatan Islam. Benar saja, di banyak tempat saya melihat perempuan mengenakan penutup kepala, sama halnya seperti di Aceh.

Berangkat dari lembah Rinjani yang dingin, kami menuju ke daerah Mandar, masih di Lombok Timur. Menikmati Mandar yang berada di pesisir membuat saya terasa sedang berada di daerah sendiri (Aceh Barat). Mandar menyisakan perpaduan antara kehidupan modern dan tradisional. Di satu sisi masyarakat masih mengamalkan Islam dalam sendi-sendi kehidupan adat dan bermasyarakat.

Pagi hari di Mandar tidak sedingin di Sembalun. Kami bergegas menuju pelabuhan untuk mengejar matahari terbit. Pelabuhan di Mandar ini merupakan salah satu pelabuhan besar bagi nelayan setempat. Matahari yang merangkak cepat diantara peluh pekerja keras yang baru pulang melaut dengan hasil tanggapan harga jutaan rupiah. Pemandangan yang biasa barangkali bagi saya yang hidup dilingkungan seperti ini. Namun perbedaan yang mencolok, para perempuan ikut menanti nelayan pulang melaut untuk mendapatkan ikan-ikan kecil yang kemudian akan dijadikan ikan asin. Para nelayan memang menjaring ikan-ikan kecil untuk dijual kepada perempuan Mandar ini.

Sunrise di Mandar tetap sama ya? Dalam hati “semasa kecil dulu saya pernah mikir kalau beda tempat akan berbeda penampilan mataharinya”. Matahari bulat naik perlahan menuju puncak tertinggi. Hiruk-pikuk aktivitas di Mandar tetap meriah. Mereka sudah terbiasa dengan matahari yang mengintip kegiatan melaut ini. Sendainya bisa saya gambarkan, saya akan membuat bulatan besar lantas menggaris senyum pada bulatan tersebut. Begitulah. Matahari yang sama namun terasa lebih panas dan membuat kulit saya gelap di Aceh.

***
Dari Mandar, meninggalkan sunrise yang terlebih dahulu meninggalkan jejaknya, kami berangkat ke daerah Lombok Barat, menuju Mataram, lalu ke Senggigi yang megah. Perjalanan ini memakan waktu 2 jam lebih.

Sunset di Senggigi
Sunset di Senggigi

Senggigi, salah satu tujuan wisata di kepulauan ini. Senggigi terletak dalam jarak yang cukup dekat dengan ibu kota provinsi NTB. Sepanjang jalan menuju Senggigi sudah berdiri penginapan, diskotik maupun café-café dengan tata hias yang menarik. Pemandangan ini akan kita temui sampai ke bibir pantai Senggigi. Kelihatannya, pemerintah daerah setempat sudah siap untuk menjadikan daerah ini sebagai tujuan utama wisata di Indonesia.

Menanti sunset di Senggigi menjadi topik yang menarik. Sebenarnya, matahari terbenam dimana saja tetap sama. Kami sampai di Senggigi sekitar pukul 5 lebih beberapa menit. Perbedaan waktu yang cukup signifikan bagi kita di bagian Barat Indonesia. Saya masih tetap ngotot menggunakan waktu Aceh padahal selang waktu dengan Lombok kurang lebih 2 jam. Menanti matahari terbenam selalu menyisakan kenangan terdalam bagi saya.

Senggigi yang menghadap ke laut lepas tidak hanya menampilkan lukisan alam lautan lepas saja. Di depan mata memandang, Pulau Bali membentuk segitiga. Inilah yang membuat menarik pandangan mata. Matahari menukik di atas pulau yang digandrungi banyak wisatawan. Perlahan-lahan matahari membawa harapan bahagia dan duka pada sebuah harapan. Di atas pulau Bali – entah apa yang sedang terjadi di sana – matahari membawa serta bongkahan keemasan.

Lombok, pulau yang sedang menanjak masa remaja ini akan berbenah dalam rangka menciptakan harmoni terstruktur diranah pariwisata yang mendatangkan devisa tidak sedikit. Anda tertarik? Silahkan berkunjung dan nikmati suguhan menarik selama di Lombok! [/ed/-jrz]

[Bai Ruindra] @bairuindra

BAGIKAN
Aceh Fame adalah portal lifestyle pertama di Aceh yang mendedikasikan diri untuk Aceh yang popular. Lifestyle tidak selamanya identik kalangan elite yang serba gelamor. Semua kita memiliki dan memilih gaya hidup.