Teriknya matahari siang hari tak mengurungkan niat gadis manis asal Aceh Tamiang ini, untuk berbagi ilmunya tentang keperpustakaan. Dengan memakai stelan rok dan blues biru mudanya dilengkapi dengan seuntai hijab. Gadis ini tampak begitu manis dan sederhana. Mutia Melinda, namanya. Ia memiliki hobi suka di foto. Bergaya di depan kamera. Tapi, ia juga suka membaca.

Hobi membacanyalah yang membawa ia masuk pada jurusan Ilmu Keperpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negri (UIN Ar-raniry) Banda Aceh. Bagi gadis yang senang disapa Mutia ini, perpustakaan merupakan tempat yang sangat penting dimanapun dan kapanpun.

“Perpustakaan itu penting ada dimana saja, untuk mencari bahan bacaan dan merupakan gudang ilmu bagi siapapun,” Ujar gadis kelahiran, Kuala Simpang, 11 Juni 1995.

Meski baru saja akan memasuki semester tiga kuliahnya, ia begitu mencintai jurusan yang telah ia jalani. Ilmu perpustakaan merupakan ilmu paling unik. Bahkan Mutia mengakui awalnya masuk jurusan tersebut karena lulusnya di jurusan itu, bukan karena ketertarikkan. Namun, hal itu ia tepiskan kini. Imu Keperpustakaan mempunyai keunikan tersendiri.

“Banyak yang sebelumnya saya tidak tau, dan kemudian saya mulai memahaminya. Seperti, metode menyusun buku yang baik pada perpustakaan sampai pada rumus-rumus menghitung jumlah buku di rak keperpustakaan,” Lanjut Mutia, Saat dijumpai AcehFame, Minggu, 10 Agustus 2014.

Mutia juga menjelaskan,bahwa sebuah keperpustakaan itu bukan hanya adanya buku-buku semata, tapi juga tentang koleksi audio, video dan film-film yang dapat menambah wawasan kita mengenai berbagai pengetahuan.

Bahkan, Mutia sendiri sudah memiliki cita-cita untuk bekerja pada sebuah perpustakaan wilayah provinsi atau membuka perpustakaan sendiri. Karena baginya perpustakaan itu bukanlah sekedar jejeran buku yang tersusun rapi di raknya, tapi persoalan segudang ilmu yang dapat membuka mata kita terhadap luasnya dunia ini. [Dara Hersavira]

BAGIKAN
Aceh Fame adalah portal lifestyle pertama di Aceh yang mendedikasikan diri untuk Aceh yang popular. Lifestyle tidak selamanya identik kalangan elite yang serba gelamor. Semua kita memiliki dan memilih gaya hidup.