Komunitas Tikar Pandan kembali menggelar acara nonton bareng Festival Film German Cinema 2014 di Episentrum Ulee Kareng, Geucheu Menara, Banda Aceh, Minggu, 24 Agustus 2014. Acara yang disponsori oleh Goethe Institut Indonesia tersebut digelar secara gratis. Pemutaran film dimulai pukul 14:00 WIB.

Setengah jam menjelang pemutaran film, penonton masih terlihat sepi karena hujan yang mengguyur Banda Aceh. Panitia yang semula tampak khawatir terlihat antusias menyambut kehadiran penonton yang berduyun-duyun mendaftarkan diri. Sekitar 50 kursi yang disediakan Episentrum Ulee Kareng nyaris penuh.

Sebelum film diputar, Putra Hidayatullah sebagai Ketua Panitia Penyelenggara memaparkan mengenai tahapan dan tujuan kegiatan. Ia menghimbau penonton untuk bersikap kritis dan terbuka menilai setiap film yang akan diputar. Komunitas Tikar Pandan memiliki visi untuk melaksanakan kerja-kerja kebudayaan, satu di antaranya memberikan suguhan film alternatif secara gratis bagi masyarakat Aceh.

Nonton Bareng |Doc. Tikar Pandan
Nonton Bareng |Doc. Tikar Pandan

Lanny Tanuliharja hadir sebagai bagian dari Goethe Institut. Ia memberikan pengarahan kepada penonton yang hadir untuk menilai isi film berlandas nilai kemanusiaan, bukan pendekatan keyakinan. Ia khawatir karena film pertama Kaddisch für einen Freund menggambarkan kehidupan imigran Palestina di Jerman yang berinteraksi dengan pensiunan tentara Yahudi asal Rusia.

Menurutnya, pemilihan film untuk Aceh sangat sulit. Tim Goethe Institut Indonesia menyeleksi secara serius 14 film yang akan diputar di 9 kota Indonesia 22-31 Agustus 2014. Ia tak mau Komunitas Tikar Pandan menanggung risiko negatif karena menentang arus nilai yang hidup di kalangan masyarakat Aceh. Lanny memastikan ketiga film yang akan diputar tak menampilkan adegan intim.

“Dari 14 film yang ada dalam daftar, kami merekomendasikan 3 film untuk diputar di Aceh”, ujarnya. Ia menyebutkan berturut-turut tiga film yang akan diputar meliputi Kaddisch für einen Freund, Das Merkwürdige Kätzchen dan Was bleibt.

Panitia merancang interaksi penonton dengan menggelar diskusi singkat usai menyaksikan film yang diputar. Menurutnya, sineas Jerman memiliki style yang berbeda dengan sineas Hollywood sehingga akan menimbulkan kesan yang berbeda.

Berdasarkan pertanyaan yang diajukan penonton, Lanny memaparkan bahwa kemajuan teknologi dan peradaban di Jerman berkait erat dengan penghargaan terhadap sejarah. Hingga hari ini, setiap orang yang berkunjung ke Jerman dapat menyaksikan kamp-kamp konsentrasi yang menjadi bukti sejarah gerakan anti-Semit di era Nazi.

“Mereka tidak malu dengan sejarahnya, sekelam apapun itu”, ujarnya mantap. [Diyus]

BAGIKAN
Aceh Fame adalah portal lifestyle pertama di Aceh yang mendedikasikan diri untuk Aceh yang popular. Lifestyle tidak selamanya identik kalangan elite yang serba gelamor. Semua kita memiliki dan memilih gaya hidup.