Peralatan sama-sama canggih, pengetahuan dan sumber daya manusianya sama-sama hebat, tapi mengapa masih saja banyak orang Aceh yang memilih berobat ke Penang, Malaysia? Pertanyaan ini sangat tepat untuk dijawab, justru ditengah upaya pemerintah Aceh dan Indonesia secara umum, bergiat memperbaiki layanan kesehatan publik.

Sebegitu penting kesehatan bagi manusia, bahkan di Aceh demi kesehatan tidak sedikit masyarakat yang rela menjual harta bendanya agar mempu mendapatkan layanan pengobatan yang lebih optimal. Cerita tentang mahalnya kesehatan dan kisah-kisah pencari sehat, selalu menarik untuk disimak. Biasanya kisah tersebut menjadi media kampanye berantai yang ampuh.

Sebut saja Penang, Malaysia. Salah satu wilayah yang terkenal dengan layanan kesehatannya. Masyarakat Aceh terlanjur percaya, semakin banyak orang disarankan untuk berobat ke Penang sebelum menyerah pasrah, jika menderita penyakit yang akut. Berobat ke Penang seakan jadi harapan bagi mereka yang masih ingin berupaya untuk sembuh dari sakit.

Bukan karena iklan

Jarak yang relatif dekat, pelayanan kesehatan yang lebih memuaskan adalah alasan utama masyarakat Aceh memilih Penang. Rumah sakit di Penang sudah dipercaya profesional menangani pasien, bahkan sebelum keberangkatan pasien sudah diberi gambaran estimasi biaya yang akan dikeluarkan. Biiasanya prediksi biaya tersebut tidak akan meleset malah bisa saja berkurang.

Menurut Ibu Ani Asrianti (35 Thn) seorang pasien yang rutin menjalani pengobatan di sebuah rumah sakit di Penang, menyatakan bahwa pihak Rumah Sakit telah begitu bersahabat dengannya. “dokter-dokter disana seakan sudah jadi saudara, kita sangat diperhatikan dan rasanya hal itu yang menambah kepercayaan diri kita untuk sembuh” ujarnya saat bertemu AcehFame digerbang keberangkatan Internasional bandara SIM (9/6/14).

Geliat layanan kesehatan publik di Aceh memang sedang didengungkan. Suatu yang tepat jika kita kembli saling mengingatkan bahwa layanan kesehatan di Aceh, tidaklah cukup diatasi dengan soslusi pengadaan fasilitas teknologi canggih semata. Karena pada akhirnya alat-alat yang canggih dan fasilitas yang hebat harus bertemu dengan SDM yang tepat dan berkualitas.

Kemajuan teknologi komunikasi kini seperti pisau bermata dua. Pembenahan sistem kesehatan Aceh akan dinilai dari keberhasilan menumbuhkan kembali kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan mulai diingkat paling dasar di Puskesmas hingga Rumah Sakit yang kini sudah berskala Internasional. Masyarakat kini semakin kritis dan semakin menuntut layanan publik yang lebih baik.

Konon lagi, kini pemerintah Malaysia makin menyadari bahwa fasilitas kesehatan yang baik dan kualitas SDM kesehatan yang handal akan mendorong masyarakat Aceh dan masyarakat Indonesia lainnya untuk datang ke Malaysia. Mereka berharap hal tersebut akan berimbas pada peningkatan sumber devisa negara. Pemerintah Malaysia kini mulai menjadikan rumah sakit dan layanan kesehatan sebagai bagian langusng dari industri pariwisatanya. Mampukah Aceh menegjar ketertinggalan? [elz]