Parasnya berbinar cerah, tatapannya menerawang tempat lain saat mengenang masa studinya selama 3 tahun di tanah Bavaria. Mengenakan stelan pink berpadu hitam, Nova Marlina terlihat menyegarkan atmosfer yang memang sedang gerimis sore itu. Pesonanya sebagai perempuan kian kokoh bersama hijab berwarna selaras dengan pakaian. Perempuan berkacamata asal Kota Sigli ini melanjutkan pendidikannya di bidang tata ruang di Stadtplanning Fachhochschule, Köln, Jerman 2009-2012 silam.

Nova Marlina
Nova Marlina

Sore, 24 Agustus 2014, kerinduan menggiringnya menuju perhelatan nonton bareng Festival Film German Cinema yang diselenggarakan Komunitas Tikar Pandan dan Goethe Institut di kawasan Geucheu Menara, Banda Aceh. Tampak kesal karena terlambat menyaksikan film pertama, Kaddisch für einen Freund, ia memaksakan diri untuk menonton film kedua, Das Merkwürdige Kätzchen.

Berikut petikan wawancara singkat Aceh Fame.

Apa yang membawa Anda kemari?
Mmm… pastinya karena saya kangen dengan Jerman. Saya sempat belajar disana. Dan, karena saya memahami bahasa yang digunakan dalam film-film yang diputar.

Mengapa memilih Jerman untuk melanjutkan studi?
Setelah tamat dari SMU Modal Bangsa, saya melanjutkan ke Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB), saat mempelajari arsitektur, saya menemukan bahwa banyak arsitek besar berasal dari Jerman. Secara keseluruhan mereka memiliki tradisi ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat.

Apa persamaan orang Jerman dengan orang Aceh?
Kreuh ulee (keras kepala -pen), itu persamaannya. Keras kepala itu positif jika diarahkan untuk meraih cita-cita. Orang Jerman keras kepala, tapi patuh pada pimpinan. Mereka kompak. Persamaan lain, orang Jerman sebenarnya sangat tertutup dan susah didekati. Mungkin akibat dari penolakan-penolakan yang mereka alami sesudah kalah perang. Tapi kalau sudah kenal baik, mereka akan memberikan segalanya, mereka akan menganggap kita lebih dari saudara; sifat yang satu ini persis sama dengan orang Aceh.

Bagaimana mereka menghargai kebebasan?
Nah.. ini pertanyaan menarik. Selama ini, kita terlalu menganggap buruk kebebasan masyarakat di Eropa. Padahal, disana saya mendapati pemilahan umur saat menonton bioskop. Anak-anak hanya dibolehkan menonton film yang sesuai dengan umur mereka. Jadi kekebasan itu, jelas dengan maksud bertanggungjawab. Soal kreativitas, masyarakat Jerman bebas berkreasi dan tidak takut karyanya akan melanggar aturan. Pemerintah juga sangat menghargai setiap karya yang lahir dari proses kreatif.

Apa yang membuat Jerman maju?
Mereka sangat menghargai perbedaan dan sejarah. Saya tidak dianggap orang asing meski selalu berjilbab selama menempuh pendidikan. Bagi saya, sikap mereka tersebut sangat ramah untuk ukuran orang Eropa. Penghargaan terhadap sejarah terlihat dari tetap lestarinya bangunan-bangunan dari masa sebelum Perang Dunia Kedua. Kita dapat menemukan dengan mudah bangunan tua di seluruh penjuru kota. Meski mereka serius mempelajari sesuatu, mereka nggak pernah memasukkan unsur seni tanpa menyingkirkan fungsi dari karyanya, di tangan orang Jerman, segala hal selalu bisa jadi seni. Taman kotanya mengalami sentuhan seni kontemporer semacam mural (graffiti), orang-orang bermain musik, gedungnya juga kokoh dan indah. Singkatnya, kita akan menemukan perpaduan antara kualitas, fungsi dan keindahan dalam setiap karya orang Jerman. [Diyus]

BAGIKAN
Aceh Fame adalah portal lifestyle pertama di Aceh yang mendedikasikan diri untuk Aceh yang popular. Lifestyle tidak selamanya identik kalangan elite yang serba gelamor. Semua kita memiliki dan memilih gaya hidup.