Interaksi manusia di dunia maya menjadikan internet sebagai tulang punggung sirkulasi arus informasi. Berita dapat terbit dalam hitungan detik, demikian pula konsumsinya. Persoalannya, saat ini arus informasi yang begitu cepat melesat menjadikan setiap orang malas mem-verifikasi. Manusia cenderung mempercayai informasi pertama yang mereka terima. Walhasil, banyak orang akan tertipu jika tidak memeriksa ulang berita atau fakta awal yang diterimanya.

Akhirnya, pengguna akun jejaring sosial yang tidak kritis akan dengan mudah menjadi penyebar kabar bohong dengan me-retwitt atau men-share berita atau informasi yang mereka baca. Bisa saja akan ada yang marah kepada orang atau pihak yang asal share. Selain itu, jika informasi tersebut menyulut kemarahan massal, dampak yang ditimbulkan akan lebih buruk lagi

Hoax jadi kata penting untuk menggambarkan kebohongan. Kata ini diambil dari hocus yang berarti menipu. Hocus adalah penggalan dari mantra sihir hocus pocus, sejenis simsalabim dan abracadabra. Menurut Robert Nares, pakar ilmu tentang bahasa dari sumber sejarah tertulis (filologi), pemunculan hoax memang dimaksudkan untuk menipu sejak awal. Artinya, ada rencana untuk mengelabui yang menerima informasi.

Ilustrasi Foto Hoax
Ilustrasi Foto Hoax

Berita adalah informasi yang disebarkan oleh lembaga atau perusahaan pemberitaan. Bentuknya bisa berita tulisan online, cetak, televisi dan radio. Perusahaan yang menerbitkan berita wajib mendaftarkan kegiatan pemberitaannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tujuannya, perusahaan memiliki tanggungjawab hukum pada saat ada beritanya yang merugikan pihak lain karena pemberitaan yang salah.

Kita mengenalnya dengan istilah mass media atau media massa. Penting memahami penjelasan di atas untuk memilah sumber informasi. Di era internet dan gadget, setiap orang yang memiliki akses dapat menyebarkan informasi, tetapi tidak semua informasi adalah berita. Setiap orang dengan syarat di atas bisa meng-upload video, foto dan artikel yang ditulis dengan gaya jurnalistik. Jadi, tidak semua informasi tergolong sebagai berita.

Hoax populer di kalangan netizen sebagai istilah untuk menggambarkan berita, foto dan segala bentuk informasi palsu. Berita-berita semacam penampakan (bahkan yang disertai foto) berpotensi hoax. Jadi, supaya tak mudah tertipu, anda dapat berupaya memeriksa ulang berita yang anda terima dengan tips berikut:

Memeriksa Foto

Pastikan anda menggunakan browser GoogleChrome. Foto boleh saja berasal dari situs atau hasil posting di facebook. Jika foto dari facebook, pastikan pula anda memasuki halaman utama foto tersebut. Misal foto milik user facebook dengan nama Bagodel Bagudul. Buka foto, klik kanan, akan muncul dialog box yang berisi beberapa pilihan. Pilih “Search Google for this image”. Secara otomatis, Google akan menyelidiki sumber foto tersebut pada halaman yang ditampilkan. Jadi, anda tinggal memilih foto dengan data tanggal, bulan dan tahun terlama.

Memeriksa Berita

Berita bersumber dari perusahaan penerbitan atau pemberitaan yang terdaftar secara sah menurut aturan. Jika anda membaca sebuah berita dari manapun, pastikan isinya.

Cara yang paling mudah mengenali ciri-ciri berita hoax adalah dengan membaca secara cermat dan menyeluruh pada setiap bangunan kata dan kalimat yang disusun.  Kemudian menandai kejanggalan-kejanggalan dengan pedoman berikut ini:

  1. Berita pertama kali didistribusikan melalui email, mailing list, forum, blog, facebook, yang kemudian disebarkan melalui twitter;

  2. Isinya bertentangan dengan logika umum dan ilmu pengetahuan. Atau bertentangan dengan fakta umum;

  3. Menggunakan istilah yang terkesan ilmiah untuk mengelabui keawaman pembaca;

  4. Gaya bahasa cenderung provokatif untuk mendorong pembaca menyebarkan;

  5. Sumber berita tidak jelas;

  6. Tidak ada sumber informasi penting. Tanggungjawab penulis adalah mencantumkan sumber ilmiah dalam tulisannya.

Ilustrasi Berita Hoax
Ilustrasi Berita Hoax

Hal terbaik yang dapat anda lakukan adalah tidak menyebarkannya (share atau re-twitt). Carilah sumber pembanding untuk memeriksa kebenarannya.

Lantas, apakah para blogger dan vlogger itu salah? Tentu tidak. Kesalahan dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk lembaga pemberitaan. Namun, jika kesalahan tersebut dilakukan oleh perusahaan pemberitaan, orang yang dirugikan dapat mengajukan tuntutan kepada pelaku yang jelas. Sementara, jika pelakunya blogger, vlogger atau situs-situs yang tidak jelas penanggungjawabnya, korban tidak dapat menuntut haknya yang telah dilanggar.

Dalam beberapa kasus blogger dapat menjadi sumber informasi pembanding, bahkan menjadi sumber informasi awal bagi jurnalis untuk menelusuri permasalahan lebih dalam. Intinya, kebenaran dan kesalahan bisa berasal dari mana saja, tapi tidak demikian dengan pertanggungjawaban terhadap kesalahan. [Diyus Hanafi]

BAGIKAN
Aceh Fame adalah portal lifestyle pertama di Aceh yang mendedikasikan diri untuk Aceh yang popular. Lifestyle tidak selamanya identik kalangan elite yang serba gelamor. Semua kita memiliki dan memilih gaya hidup.